“..Langit biru setiap liku jalan itu, Akan selalu melukiskan kisah itu” – Float, 3 Hari Untuk Selamanya.

Penggalan lirik lagu milik Float itu seakan menggambarkan suasana seru perjalanan 3 hari kami berlima di Yogyakarta. Seakan baru kemarin kami berpetualang singkat di Bali, ternyata itu sudah 9 bulan yang lalu, dan kini akhirnya kami bisa pergi lengkap berlima: Ilham, Agung, Rama, Annisaa & Desi.

Kami memilih Jogja sebagai destinasi travelling trip kali ini setelah diskusi di group chat beberapa bulan lalu untuk pergi pada long weekend yang juga bertepatan dengan libur peringatan hari kemerdekaan RI. Transportasi yang dipilih untuk pergi pulang yaitu kereta api, tapi kebetulan saya “harus” menghabiskan tiket konsesi untuk terbang ke Jogja. Entah kenapa setiap mau pergi ada saja drama yang terjadi sebelum perjalanan, kali ini saya hampir ketinggalan pesawat karena macet di tol dalam kota, dan di hari itu semua flight sudah penuh kecuali 2 flight terakhir, hingga harus berlarian dari turun bus Damri di Gate 3 Terminal 3 sampai ke depan boarding gate (tau lah yah Terminal 3 gedenya ngga kira-kira).

Saya landing di Jogja sekitar pukul 06.30 WIB dan langsung ngojek untuk bertemu mereka di sekitaran Bank Indonesia Jogja (karena Rama wajib ikut upacara 17-an). Dari sana kami langsung menuju ke Keraton Ngayogyakarta dengan menggunakan mobil sewaan yang akan menemani perjalanan 3 hari ini. Sebelum memulai petualangan hari pertama, kami semua mengisi tenaga dulu dengan segelas jamu beras kencur yang dijajakan di dekat tempat parkir keraton.

Malioboro

Keraton Ngayogyakarta katanya baru dibuka jam 10 a.m.,dan karena datangnya kepagian jadi kami memutuskan buat berkeliling jalan kaki ke sekitaran Malioboro yang memang tidak jauh dari daerah keraton. Sekitar pukul 09.00 masih ramai sekali oleh orang-orang yang habis mengikuti (atau baru akan) upacara bendera di kantor pemerintahan yang ada di ujung jalan Malioboro ini.

Dan jujur aja, jalur pedestrian di Malioboro ini totally different dengan terakhir saya ke Jogja beberapa tahun lalu. Pedestriannya kini tertata lebih baik walau masih ada lapak-lapak pedagang kaki lima, namun lebih rapih dan tertata. Juga sekarang sudah disediakan kantong-kantong parkir kendaraan yang resmi sehingga tidak ada lagi motor maupun mobil yang parkir sembarangan di pinggir jalan Malioboro yang kerap membuat kemacetan di sepanjang jalan ini. Disini kami sightseeing di sepanjang jalan Malioboro dan jajan es dawet ayu untuk menghilangkan haus.

Taman Sari Water Castle

Sekembalinya dari Malioboro, ternyata Keraton Ngayogyakarta sedang tutup di tanggal 17 Agustus ini, jadinya kami memutuskan untuk ke Taman Sari Water Castle, kata om google bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 10 menit. Taman Sari Water Castle ini yaitu sebuah kastil kuno ceritanya dibangun era Sultan Hamengkubuwono I dan selesai di masa Sultan HB II, yang awalnya difungsikan sebagai tempat peristirahatan Sultan HB I dan juga sebagai tempat persembunyian dari perang. Namun bangunan ini hancur saat invasi Inggris Raya serta gempa yang terjadi disekitarnya. Tapi proses restorasi hanya dapat menyelesaikan beberapa bagian saja seperti bagian pemandian.

Karena kami kesana bertepatan pula dengan hari libur panjang, alhasil ramai sekali dikunjungi turis lokal maupun mancanegara. Alih-alih pengen ambil foto yang kece Instagrammable jadi cuma bisa foto ala kadarnya. Tiket masuknya murah hanya Rp.5000 untuk wisatawan domestik dan yang bawa kamera harus bayar Rp.3000.

Gumuk Pasir

Gumuk Pasir ini terletak di daerah Parangtritis, Bantul, yang kira-kira butuh waktu satu jam perjalanan untuk sampai kesini dari pusat kota Jogja. Sayangnya kami sampai kesini agak kesorean karena bebersih dan istirahat dulu sebentar di apartemen dan langit begitu cepat berubah menjadi gelap. Disini seperti gurun pasir mini dimana bisa dilihat sekelilingnya bukit-bukit pasir-pasir. Buat foto-foto sebetulnya bagus dan bisa memanfaatkan banyak spot yang bisa di eksplor disini (kalau cahayanya masih bagus). Biaya masuknya diitung per kendaraan, untuk mobil yaitu Rp. 10.000 / mobil.

Pantai Pok Tunggal

Kalau pantai Parangtritis sudah terlalu mainstream ya buat banyak orang, dan pantainya pun agak kotor, akhirnya kami ingin meng-eksplor pantai lainnya yang ada di bibir pantai D.I.Y ini. Dapatlah satu nama pantai yang ternyata cukup jauh jaraknya hampir 40 km dari kota Jogja dengan waktu tempuh sekitar 2 jam menggunakan mobil dengan kondisi jalan yang cukup sepi. Asli, cuaca di pantai walau sudah pukul 11.30-an tidak gerah sama sekali, dan saat mencelupkan kaki ke air laut, airnya terasa adem tidak ada panas-panasnya padahal langit begitu cerah dan sangat jarang ada awan .

Saya yang memang suka tidur, sangat enjoy dengan suasana pantai yang sepi ini. Badan sengaja saya rebahkan di atas saung yang kami sewa sambil memejamkan mata dan mendengar deru ombak ditambah angin sepoi-sepoi. Sungguh suasana yang sangat tenang dan bisa me-refresh kepenatan yang ada dikepala. Selain itu juga, menikmati ombak di pantai juga tidak kalah menyenangkan.

Kebun Bunga Matahari & Pantai Goa Cemara

Tempatnya ada di area Parangtritis, kita bisa menemukan beberapa kebun-kebun atau taman bunga matahari. Disebut kebun karena disekat-sekat dan kalau mau masuk ke tiap kebun pengunjung dikenakan biaya Rp.5000/orang dan bayar parkir lagi tentunya. Ada beberapa kebun disini, kita bebas mau pilih yang mana. Di kebun bunga matahari ini paling kita berputar-putar saja dan memfoto bersama bunga-bunga matahari yang ada.

Tidak jauh dari kebun bunga matahari, kita sudah sampai ke pantai Goa Cemara. Objek wisata ini ya seperti pantai pada umumnya, nothing special menurut saya pantainya tapi kami menemukan sebuah spot untuk foto di pantai ini beberapa saat sebelum matahari tenggelam. Tidak berlama-lama kami disini dan kembali lagi ke kota untuk makan malam.

Candi Borobudur

Tempat wisata terakhir yang dikunjungi sebelum pulang ke Jakarta yaitu Candi Borobudur. Tempat yang pernah menjadi salah satu keajaiban dunia dari UNESCO yang terletak di Magelang, ditempuh sekitar 1 jam perjalanan ke arah utara menggunakan mobil. Nothing changes sih di Borubudur ini dari pertama kali saya kesini. Kita bisa melihat relief cerita tentang kehidupan dimasa lalu, dan pemandangan dari puncak Candi Borobudur. Harga tiket masuk wisatawan lokal Rp. 40.000 dan ada tiket terusan ke Candi Prambanan dengan harga Rp. 75.000. Beberapa tips singkat dari saya buat yang mau berkunjung ke Borobudur ini:

  1. Bawa alas kepala. Topi atau payung, wajib karena di dalem dan di atas sana panas terik matahari. Kalau tidak bawa sendiri pun, disana kalian bisa beli on the spot dari warga lokal yang menjajakan aneka macam topi dari kita turun dari mobil/bus sampai di depan pintu masuk. Jangan lupa menawar ya, karena harganya terlampau mahal diatas 60 ribu. Buat payung sendiri bisa nyewa setelah pintu masuk dengan harga Rp.5000/payung.
  2. Jangan lupa bawa minum. Apalagi bagi kalian yang baru masuk jam 10-an saya saranin bawa minum deh, soalnya di dalam sana tidak ada yang menjual makan-minum, tapi tidak boleh bawa makanan buat botram ya, pasti akan ‘ketangkep’ di pos pemeriksaan tas di pintu masuk.
  3. Kalau udah siang lebih baik pakai sepatu atau sandal yang berpenutup, daripada permukaan kaki jadi belang atau kebakar.
  4. Buat yang ingin tahu cerita atau sejarah tentang relief di Borobudur ini, bisa “nguping” dengan cara dekat-dekat dengan rombongan wisatawan mancanegara, karena mereka biasanya didampingi oleh pemandu wisata resmi dari pengelola Borobudurnya. Lumayan gratisan kan 🙂


Kulineran?

Berbeda dengan pas saya ke Palembang kemarin, dimana tujuan utamanya yaitu untuk kulineran, khususnya pempek. Di Jogja ini tujuan utamanya bukan kulineran tetapi lebih ke tempat-tempat wisata. Beberapa tempat makan yang kami singgahi seperti Ayam Geprek Bu Rum, Bukit Bintang & Soto Sampah. Bukit Bintang itu tempat makan berbentuk saung-saung di atas dataran tinggi dengan view kota Jogja, kalau di Bandung mirip-mirip lah sama punclut. Saya suka suasana disini karena selain bisa melihat pemandangan lampu-lampu kota juga bisa melihat kerlipan lampu-lampu pesawat yang terbang diatas langit kota untuk terbang dan mendarat.

Ayam Geprek Bu Rum

Tempat Menginap

Untuk tempat menginap kami yaitu di Vivo Apartment yang terletak di daerah Seturan. Kebetulan kamar kami dapat di lantai 9, dan viewnya langsung menghadap ke Gunung Merapi. Lokasinya mudah ditemukan di Maps, walau agak sedikit masuk dari jalan besar. Fasilitasnya oke banget, tempat parkir banyak dan ada security 24 jam. Buat yang mau nyewa juga, bisa dicari aja lewat Airbnb.


At the end, ada pertemuan ada pula perpisahan. Begitu pula dengan perjalanan 3 hari ini tanpa terasa harus sudah kami akhiri untuk kembali ke Jakarta menggunakan kereta api Senja Utama. Masih ada drama lagi menjelang kepulangan saat dompet saya terjatuh di tempat makan saat kereta sudah datang, dan untungnya masih ada. Sebab mulai dari tiket sampai semua kartu atm ada didompet semua (pelajaran lain kali harus disebar di beberapa tempat untuk menyimpan benda-benda yang ada di dalam dompet).

It’s been a great vacation. Hope we can make it again in the future, someday.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *