Setelah beberapa kali tertunda, akhirnya rencana saya ke Palembang alias kota pempek kesampaian juga. Tadinya rencana hanya solo travelling dan disana ditemani temen kuliah, Nusem. Tapi setelah kontak dia, ternyata di tanggal 4 Agustus kaka kelas kami Ka Tyo dan Ka Evi mau ke Palembang juga, alhasil aku kontak mereka dan kami jadi pergi di tanggal yang sama.

Seperti biasa kalau mau liburan, saya pakai penerbangan pertama menggunakan flight GA 100 rute CGK – PLM berangkat pukul 05.30 dan tiba di bandara Sultan Mahmud Badaruddin 2 sekitar pukul 6.30. Ternyata pesawatnya penuh juga di penerbangan awal ini, mungkin juga karena mau Asian Games. Beberapa waktu kemudian muncul Ka Talcha, kakak kelas saya di kuliah sebagai orang asli Palembang yang akan menjadi guide kami 2 hari ini.

Palembang Explore Team

Kulineran di Palembang

Sesuai ciri khas kota Palembang yang terkenal dengan pempeknya, sejak pagi pun kami sudah mencoba pempek. Di segmen ini saya mau cerita dulu semua tentang pempek dan makanan yang sudah dicicip selama di Palembang.

1. Mi Celor

Sarapan utama pagi waktu itu Mie Celor H. Sjafei, yang katanya paling terkenal di Palembang. Menurutku mi dengan kuah yang terasa creamy ini mirip sama spaghetti carbonara karena secara tampilan pun demikian namun diatasnya ada telor rebus dan toge-togean. Buat saya rasanya cukup enak dengan harga satu porsi Rp.20.000.

Mi Celor

2. Pempek Vico

Destinasi pempek pertama yaitu Pempek Vico, yang berada persis di seberang Palembang Indah Mall tempat meetup kami sama Nusem. Pempek Vico cukup terkenal luas dan kalau dibawa pulang akan di vacuum jadi bisa tahan sedikit lebih lama.

Pempek Vico

Cuka atau orang sini nyebutnya “cuko” dari pempek Vico ini agak pedas dilidah saya. Dan ternyata disini itu pempek by default-nya direbus jadi kami minta digoreng lagi. Overall ini pempek dapet nilai 9 dari saya. Harga satuannya yaitu Rp.4000 untuk pempek kecil. Selain pempek, di Vico ini juga menyediakan Es Kacang Merah yang segar untuk dinikmati di siang hari. Buat yang mau bawa oleh-oleh pempek Vico, disini tersedia berbagai macam paketan dari berisi macam-macam isi (kapal selam, lenjer, adaan) mulai dari harga Rp.120.000/30pcs pempek kecil.

3. Pempek Beringin

Lanjut dari Vico, kami ke pempek Beringin yang lokasinya tidak begitu jauh dari Vico. Bedanya disini semua aneka pempek disajikan didekat pintu masuk jadi pengunjung bisa langsung milih pempek yang sesuai seleranya.

Pempek Beringin

Pempek dan cuko nya enak juga, tapi untuk ukuran lidah saya masih lebih suka Vico ya. Tapi kalau dari ambience restorannya saya lebih suka disini tidak seramai di pempek Vico tadi. Buat harga sendiri tidak berbeda jauh sama Vico, tapi disini selain menyediakan pempek ada juga beberapa aneka sajian lainnya seperti Lempok Durian, Kerupuk Kemplang dan lainnya.

4. Pempek Saga Sudi Mampir

Tempat pempek terakhir yang kami kunjung di hari pertama, lokasinya persis di depan kantor Walikota Palembang. Sebetulnya sebelum kesini baru saja makan malam di Restoran Riverside yang berada di pinggir sungai Musi, dan perut masih beugah. Tapi gatau kenapa masih ada ruang buat makan pempek ini. Di Pempek Saga ini yang terkenal yaitu pempek bakarnya, saya recommend buat nyoba “Lenggang Bakar”. Dari awal kulineran pempek kita sepiring untuk berlima lho jadi selain engga “eneg” sama bayarnya juga jadi lebih ringan, hehe.

Lenggang Panggang

5. Kampung Pempek Seribu

Nah ada lagi nih sebuah jalan kecil atau gang yang hampir sepanjang gang ini menjual pempek mulai dari harga Rp. 1000! Kami mencoba ke salah satu toko pempek yang paling besar dan ramai (dengan harapan rasanya enak juga), dan ternyata disini pempeknya direbus semua ndak ada yang gorengan. Rasanya juga “B” aja untuk ukuran pempek walau harganya cuma Rp.1000/potong yah, buat saya pribadi not recommend kalau buat penikmat pempek yang kaffah, haha.

Kampung Pempek Seribu

6. Duren!

Siapa sangka jauh-jauh ke Palembang ternyata bisa ketemu duren! Di hari kedua ini makan duren menjadi penutup serangkaian jalan-jalan singkat kami di Palembang. Duren-duren disini dijual dengan harga Rp. 25.000 per buahnya, dan kalau tidak manis boleh ditukar. Untungnya kami semua suka makan duren, dan cukup 2 buah duren saja untuk berlima.

7. Nasi Minyak

Terdengar asing di telinga saya, awal-awal saya kira ini mirip dengan nasi lemak yang ada di Singapura kemarin ternyata ini lebih enak! Dari luar terlihat seperti nasi goreng kecap buatan ibu saya, tetapi saat masuk kedalam mulut, yummy! Mirip seperti nasi kebuli, nasi yang diberi minyak samin dengan aneka macam bumbu rempah, dan  ditambah aneka lauk yang sudah tersedia diatas meja. Bisa menjadi opsi untuk dicoba di Palembang nih.

Songket, Sungai Musi & Pulau Kemaro

Sebelum memulai wisata kuliner, kami sebelumnya mengunjungi pasar yang hampir semua tokonya menjual aneka songket mulai dari kain meteran sampai topi khas Palembang. Harga songket asli ternyata mahal kebanyakan diatas Rp. 500.000an sampai jutaan rupiah tergantung motif dan kualitas kainnya sendiri. Saya cuma beli kipas motif saja seharga Rp.25.000, karena memang tidak ada planning beli kain disini.

Tempat yang dikunjungi lainnya di Palembang yakni sungai Musi dan jembatan Ampera. Selain itu direkomendasikan juga buat melihat-lihat ke Pulau Kemaro yang bisa dicapai menggunakan speedboat menyusuri sungai Musi. Kebetulan begitu sampai kami langsung ditawarin untuk naik speedboat, dan setelah tawar menawar harga didapatlah Rp. 150.000 untuk perjalanan pergi pulang.  Waktu tempuh dari tempat naik dekat Tugu Ikan Belindo sampai ke pulau Kemaro sekitar 15-20 menit dan agak seram juga karena boatnya ngebut banget.

Sesampainya disana, ternyata pulau ini ada sebuah kuil pagoda yang konon ada cerita sejarahnya tentang bertemunya seorang saudagar dari Cina yang jatuh cinta sama perempuan setempat yang entah bagaimana cerita cinta keduanya diabadikan dengan didirikannya kuil ini. Buat saya sendiri ngga terlalu menarik di dalam pulau kecil ini, namun saya senang melihat-lihat kapal-kapal besar dan pabrik milik PT. Pupuk Sriwijaya yang berada dekat dengan pulau ini.

Begitu sudah selesai dari Pulai Kemaro, kami cooling down dulu ke J.Co yang ada di Dermaga Point sambil menikmati pemandangan jembatan Ampera sebagai ikon kota Palembang ini. Dan kebetulan juga saya bertemu rombongan kirab obor/torch relay Asian Games 2018 begitu mau masuk ke Dermaga Point.

Sight Seeing Jembatan Ampera

Riverside Restaurant

Beberapa kali saya lihat di Instastory temen yang sedang di Palembang, mereka makan di sebuah tempat dengan pemandangan jembatan Ampera. Dan ternyata tempat itu adalah Riverside Restaurant. Menu di resto ini sebagian besar seafood kayak Ikan Seluang Goreng, Pindang Patin dan aneka olahan ikan lainnya. Harga di restoran ini buat saya masih terjangkau, tidak semahal Bandar Djakarta di Ancol kok. Sambil menghabiskan senja, kami sekalian makan malam di restoran ini sambil bercerita kehidupan perkantoran masing-masing.

Riverside Restaurant

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin

Destinasi terakhir kami di Palembang yaitu masjid agungnya Palembang. Mesjid agung ini terletak di salah satu jalan protokol yang mudah ditemukan. Struktur bangunan masjid agung ini seperti masjid agung kuno pada umumnya, namun telah dilengkapi AC di ruang utamanya sehingga membuat jamaah dapat beribadah dengan nyaman.


At the end, perjalanan ke Palembang kemarin ini cukup seru buat saya menghilangkan penasaran akan kota Palembang yang selama ini saya bayangkan dari cerita-cerita Ibu saya yang sempat tinggal di Palembang dahulu kala. Kalau suatu saat diajak kesini lagi saya tidak menolak dan pasti tempat pempek yang sudah disebutkan diatas menjadi tujuan kulineran nanti. Thank you –mif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *