Bismillahirrahmanirrahim,

Tanggal 10 November yang biasa kita kenal sebagai hari pahlawan yang menjadi bagian dari sejarah dan peristiwa besar perjalanan bangsa ini, namun ada yang berbeda dengan 10 November 2020 terutama di area bandar udara Soekarno Hatta International Airport (SHIA) yang merupakan objek vital negara sebagai pintu gerbang internasional menuju ibukota negara ini. Dari sejak subuh, saya dikagetkan dengan foto keadaan tol Sedyatmo yang merupakan akses utama menuju bandara Soekarno Hatta telah macet sangat panjang. Awalnya saya kira ada kecelakaan yang biasa menyebabkan macet, tapi ternyata bukan itu dan kemacetan sudah terjadi sejak sebelum subuh, ada apa gerangan?

Selidik demi selidik saya buka twitter Elshinta, TMCpoldametro dan instagram @jktinfo, ternyata kawasan Bandara Soetta telah dipenuhi oleh massa dari salah satu ormas yang akan ‘menjemput’ tokohnya yang menurut informasi baru akan landing pada pukul 08.30 WIB. Tapi ribuan massa tersebut sudah setia menunggu sejak dini hari dan konon ada yang menginap dari malam harinya, yang otomatis membuat lalu lintas di sekitar bandara mulai terganggu. Saya kurang setuju aktivitas tersebut ya, tapi kembali itu hak mereka sebagai warga negara, namun apakah tidak ada yang berfikir bahwa tindakan mereka akan mengganggu kepentingan umum dan juga fungsi bandara sebagai objek vital negara? Mengapa tidak dilakukan ‘penyambutan’ di sekitar kediamannya saja?

Okelah saya tidak mau membahas itu secara lebih lanjut biarkan itu menjadi cerita yang telah selesai, mari kita lihat dari sudut pandang lain yakni dari stakeholder yang sangat terkena imbasnya dari peristiwa kemarin itu seperti maskapai penerbangan, operator bandara, jasa logistik, dan beberapa entitas lain di wilayah bandara yang turut terdampak.

Akibat kemacetan panjang yang terjadi, tentu banyak penumpang yang ketinggalan pesawat namun jangan lupa, tidak sedikit pula kru pesawat yang ikut terjebak dalam kemacetan. Hal ini tentu memaksa maskapai untuk melakukan penyesuaian secara cepat seperti mengatur ulang jadwal penerbangan, rotasi kru dan rotasi pesawat. Apalagi CGK sebagai hub utama maskapai-maskapai besar di Indonesia, jadi kalau di CGK ada masalah maka tidak menutup kemungkinan efek domino yang akan ditimbulkan. Menyunting berita dari CNBC Indonesia, bahwa ada 118 penerbangan dari CGK yang terdampak.

Dampak Ekonomi di Sektor Penerbangan

Maskapai sudah pasti mengalami kerugian yang tidak sedikit dari aksi massa yang ‘hanya’ terjadi sampai menjelang siang itu. Walau diatas jam 12 kondisi sudah mulai normal dan massa mulai membubarkan diri dari jam 10-an, tapi imbasnya bisa kemana-mana.

Kerugian materil sudah pasti terjadi pada sektor penerbangan, yang mungkin tidak diketahui oleh banyak orang. Berikut gambaran biaya yang timbul apabila terjadi seperti peristiwa kemarin:

1. Maskapai

  • Refund tiket penumpang
    Income di depan mata bisa sirna saat penumpang memilih me-refund tiketnya dan tidak jadi membayar untuk perjalanan menggunakan jasa maskapai. Bisa jadi tidak hanya perjalanan berangkatnya, bagaimana kalau satu rangkaian journey yang dibatalkan? Dikalikan berapa banyak calon penumpang yang membatalkan tiketnya? Wah sudah pasti maskapai harus merogoh koceknya lebih dalam lagi ya. Namun, ada juga penumpang yang memilih fasilitas re-schedule gratis dari maskapai.
  • Snack untuk penumpang yang terkena delay
    Kompensasi akibat keterlambatan dalam penerbangan sudah diatur dalam PM No. 89 Tahun 2015. Dalam peraturan menteri tersebut sudah ditetapkan kewajiban maskapai untuk memberikan snack kepada penumpang akibat delay, tapi peristiwa kemarin apakah dapat pengecualian dari regulator? Untuk di CGK mungkin dapat masuk delay kategori lain-lain, tapi untuk di luar CGK yang terkena efek domino bagaimana ya? Untuk maskapai full service rasanya mereka tidak akan rela mengorbankan image dan layanan kepada penumpang dengan tidak memberikan snack akibat kompensasi delay, walau kesalahan bukan diakibatkan dari pihak maskapai.
  • Transportasi dan Rotasi Kru
    Mobilisasi kru baik awak kabin maupun kokpit sudah pasti terdampak. Apalagi akses utama ke bandara sudah lumpuh, bagaimana kru bisa sampai dengan tepat waktu? Bahkan ada video awak kabin dan pilot yang sedang berjalan kaki menuju bandara.
    Walau pesawatnya mungkin terlihat banyak di apron, tapi kalau crew-nya tidak ada, siapa yang mau menerbangkan? Kadang ada penumpang yang ngotot kepada ground staff karena lihat pesawatnya banyak tapi kok tidak berangkat-berangkat? 😂
  • Catering (in-flight meals)
    Setiap penerbangan full service yang menyajikan in-flight meals, melakukan order kepada caterer berjam-jam sebelum berangkat (tiap airline punya kebijakan yang berbeda) mungkin ada yang dari satu hari sebelumnya. Nah kalau tidak jadi berangkat, atau penumpang memilih refund sudah bisa dipastikan timbul kerugian atas biaya catering tersebut apalagi bila sudah dipesan dalam jumlah banyak.

2. Operator bandara

  • Lost potential airport tax
    Airport tax itu dihitung dari setiap individu yang berangkat dari sebuah bandara. Yang tidak jadi terbang banyak, sudah pasti hilang potential revenue dari airport tax ini (walau katanya airport dibebaskan dari harga tiket, masa engga disubsidi pemerintah?)
  • Biaya perbaikan fasilitas yang rusak
  • Potential revenue lost dari gerai-gerai di bandara
  • Potential revenue lost dari operator transporasi darat di bandara, cth Damri, Bluebird, Primajasa, dll.

3. Jasa Logistik/ Kargo

Dengan adanya hambatan dalam proses pengiriman kargo udara, otomatis penyedia jasa transportasi kargo atau perusahaan ekspedis sudah harap-harap cemas terutama yang memiliki layanan pengiriman instan/kilat apalagi kargo yang dikirimkan menggunakan pesawat penumpang. Otomatis juga dapat berdampak pada image perusahaan kargo itu sendiri apabila tidak dapat men-delivery service kepada customernya.

Itu baru sedikit gambaran saja mengenai kerugian yang timbul dari sebuah delay yang disebabkan oleh faktor di luar manajemen airline. Sebenarnya masih banyak lagi yang bisa dikupas terkait masalah delay namun Insya Allah akan dibahas di lain kesempatan.

Semoga kejadian seperti kemarin tidak terjadi di kemudian hari dan masyarakat bisa lebih dewasa dan menyadari dalam melakukan suatu aksi apakah lebih banyak manfaat atau mudharatnya dan bisa mengesampingkan fanatisme semata, mementingkan kepentingan umum di atas kepentingan kelompok maupun pribadi.

Note: Tulisan ini tidak bertujuan untuk mendiskreditkan pihak tertentu, penulis hanya ingin sharing dampak dalam bisnis aviasi. Cheers.


Referensi:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201110204722-4-200877/118-penerbangan-di-bandara-soekarno-hatta-delay-hari-ini

http://jdih.dephub.go.id/assets/uudocs/permen/2015/PM_89_TAHUN_2015.pdf

Cover Photo by JESHOOTS.COM on Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *