Alhamdulillah akhirnya salah satu impian untuk pergi ke Jepang dapat terlaksana. Setelah sempat tertunda beberapa kali, akhirnya bisa berangkat di akhir bulan April ini. Dalam trip Jepang pertama ini saya memilih ke Osaka, karena kebetulan ada Mas Rizki yaitu sepupu saya yang juga kerja disana jadi bisa ikut tinggal di apartemennya selama trip ke Jepang (alasan biar ngirit cost akomodasi sih, hehe). Berangkat menggunakan flight Garuda GA888 rute CGK – KIX berangkat Sabtu malam pukul 11.20 pm dan sampai Ahad pagi pukul 7.30 am, memang timing yang pas.

Di Osaka sudah mulai masuk musim peralihan dari musim semi ke musim panas, begitu keluar pesawat terasa udaranya cukup dingin dengan suhu rata-rata 10 – 14 degree Celsius dan airnya pun dingin seperti air es yang. Apalagi begitu keluar gedung Terminal 1 untuk menuju Kansai-airport Staion, angin berhembus lembut namun berasa lebih dingin.

ICOCA, Kartu Segala Fungsi

Bepergian menggunakan kereta tapi namun tidak pakai JR Pass, saya saranin untuk beli ICOCA Card di ticket counter stasiun Kansai Airport. Kartu ini seperti e-money di Indonesia atau EZ-link nya Singapore. Bisa dipakai di JR line, Nankai line, Metro hingga Bus di segala kota di Jepang. Top up awal minimal ¥3000 aja dulu, karena beneran deh tarif kereta atau transportasi lainnya di Jepang cukup mahal. Kalau tidak kepepet amat, jangan coba-coba naik taksi di Jepang karena ratenya yang menurutku “terlalu” mahal jadi usahakan sebisa mungkin menggunakan public transport lainnya saja. Grab or Gojek? Not available here.

Kansai Airport – Izumiotsu

Dari Kansai Airport langsung ngereta ke apartemenya Mas Rizky yang berada di Izumiotsu. Yap ‘apartemento’ Mas Rizki ada di wilayah Izumiotsu dan berjarak 10 menit jalan kaki dari stasiun. Ini adalah sebuah kota yang menurut dia kayak desanya Jepang (jangan dibandingin sama desa di Indonesia) dan kota kecil ini cukup tenang, tidak seramai kota-kota besar lainnya, pokoknya suka banget sama suasana di Izumiotsu. After drop the baggage, lets start the trip!


Hari ke 1 : Welcome to Japan!

Nara

Nara adalah sebuah kota di timur Osaka, dan di trip kali ini saya menggunakan kereta yang rutenya agak ribet bagi pendatang baru seperti saya (karena belum belajar peta kereta Jepang sebelumnya). Kira-kira rutenya seperti ini:
Izumioutsu Station – Shin-Imamiya Station transfer train to JR line Shin-imamiya – Nara.

Namanya juga baru pertama ke Jepang, amaze banget sama suasana di sini yang dari dulu cuma bisa dikhayalin dari komik dan filmnya Doraemon. Apalagi di Nara, suasana “ke jepang-jepangannya” cukup kental, walau sebenernya lebih kental di Kyoto. Keluar dari Stasiun Nara kami berjalan kaki menyusuri jalan khusus pedestrian menyusuri Sanjo-dori street, Nara Park, Gate of Todaji sampai ke Koujou Shrine untuk melihat kota Nara dari ketinggian.

Saya baru tau ternyata shrine itu tempat ibadahnya orang-orang budha di Jepang dan karena di Jepang lagi libur nasional jadi banyak sekali yang datang untuk beribadah. FYI sebetulnya dalam ajaran Islam tidak boleh dengan sengaja datang ke tempat beribadah agama lain terutama ke tempat-tempat yang ada kesyirikannya, only this time.

Makan siang dengan sebungkus onigiri yang gurih dan jajan kueh bulet-bulet yang enak sebelum melanjutkan trip ke Namba.

Kota Nara

Namba

Kalau naik kereta Airport Express dari Kansai airport ujungnya yaitu Namba station dengan ticket fare ¥667. Di Namba sendiri ada beberapa spot terkenal dan menjadi tujuan wisata baik warga lokal maupun turis asing yang bisa di kunjungi. Let me tell you some of them.

Namba Station

Ebisu-bashi suji – Dotonburi – Shinsaibashi

Ini adalah kawasan perbelanjaan paling ramai di Namba berisi pertokoan dan restoran. Kita juga bisa menemukan berbagai macam barang disini yang pastinya original mulai dari barang elektronik, sepatu, tas, fashion, jam tangan, hingga oleh-oleh khas Jepang bisa ditemui disini. Selain barang-barang tersebut di Dotonburi juga banyak sekali restoran-restoran hingga food stall, namun bagi muslim traveler harus berhati-hati saat membeli makanan disini. Wangi daging yang sedang dimasak tidak jarang itu berasal dari daging babi. Dan saya saranin sebelum membeli tanyakan dulu ke penjualnya apakah makanan tersebut halal atau tanya “moslem food?” karena infonya orang Jepang harus jujur mengenai makanan halal ini.

Lanjut lagi, di sepanjang jalan Ebisu ini kita akan melalui crossing yang cukup ramai seperti Shibuya Crossing yang terkenal di Tokyo yang menghubungkan dua “gang” pusat perbelanjaan. Dan kita akan sampai ke Glico sign yang terkenal itu (baru tau kalau Pocky itu produknya Glico) yang orang-orang biasa foto dari atas Ebisu bridge. Dari Ebisu bridge banyak merchant-merchant terkenal seperti H&M, Zara, Tommy Hilfiger, Bershka, Daiso dan masih banyak lagi yang bisa ditemui hingga ujung jalan Ebisu ini.

Crossing to Dotonburi
Glico Sign – Ebisu Bridge

Nipponbashi, Sakai-suji

Yang hobi dengan action figure, diecast dan anime-anime pasti betah kalau sudah berkunjung ke area Nipponbashi ini. Kenapa? Karena sepanjang jalan ini banyak sekali toko-toko mainan yang menyediakan berbagai macam koleksi dari harga yang murah sampai koleksi paling mahal sekalipun bisa ditemui di sini. Salah satu toko yang saya kunjungi yaitu Joshin Super Kids Land HQ. Kedengerannya seperti toko mainan untuk anak kecil, tapi begitu masuk ada 5 lantai dengan tema masing-masing tiap lantainya. Sebut saja lantai khusus mokit Tamiya, action figure (plamo Gundam Bandai), diecast, hingga miniatur kereta api! Dan kesemua lantai itu rame dikunjungi rata-rata sama laki-laki yang memiliki hobi serupa, bahkan saya sendiri ngabisin waktu hampir ada 1 jam untuk “cuci mata” dengan barang-barang yang ada disini. Buat diecast collector, kalian bisa nemuin mobil-mobil merk Kyosho, Autoart, Norev, Minichamps sampai Bburago pun ada loh. Beneran deh jangan sampai terlewat mengunjungi toko ini kalau sedang main ke Namba, Osaka.


Hari ke 2 : Explore Kyoto City

Hari kedua dihabiskan fullday di Kyoto dari pagi sampai malam karena banyak sekali objek yang bisa didatangi di Kyoto ini. Perjalanan menggunakan kereta cukup jauh dan perlu 3x berganti kereta yang ditempuh dengan waktu hampir 1 jam dari Izumioutsu Station sampai ke Kyoto Station.

Bagi yang mau ngetrip seharian menggunakan Kyoto City bus bisa beli tiket One Day Pass seharga ¥600 di ticket machine yang ada di Bus Terminal persis di depan Kyoto Station tanpa perlu mengantri panjang di loket khusus tiket. Setelah beli tiket kita tinggal mengantri di jalur bus yang akan menjadi tujuan. Untuk tulisan tentang transportasi umum di Jepang coming soon.


Arashiyama Bamboo Groove

Arashiyama menjadi destinasi pertama kami, karena akan menyisir Kyoto dari barat ke timur. Dengan menggunakan bus nomor 28 dengan mengantri di line C6 nanti dan turun di pemberhentian Arashiyama Park atau Nanomiya yang berjarak sekitar 45 menitan dari terminal bus Kyoto.

Dari tempat turun bus masih perlu jalan kaki lagi 15 menitan untuk masuk ke Bamboo Forest atau Bamboo Groove, dan tidak ada biaya masuk sama sekali. Di sepanjang jalan menuju pintu masuknya kita bisa melipir ke salah satu toko kalau mau menyewa kimono agar terlihat seperti warlok (warga lokal). Selain itu banyak juga restoran dan toko-toko suvenir di sepanjang jalan ini.

Niat ingin ambil foto Bamboo Forest yang sepi seperti di kebanyakan foto orang-orang, namun karena saking ramainya bisa berfoto seperti ini saja sudah untung. Setelah nonton Travel Vlognya Wira Nurmansyah, ternyata kalau ingin dapet foto dengan kondisi sepi itu sebaiknya datang pagi-pagi sekitar jam 7an sebelum orang-orang berdatangan.

Arashiyama Bamboo Forest

Untuk opsi transport lainnya bisa juga menggunakan kereta JR juga dengan rute berikut:

Kyoto Station > Naik JR San-In Line > Turun di Saga-Arashiyama Station (Sekitar 20 min, fare ¥240)


Fushimi Inari Taisha

Siapa sih yang tidak tahu tempat ini? Ekspekstasi saya sama seperti di Bamboo Forest tadi ingin dapat foto yang kece, ternyata tidak kalah ramai. Ternyata disini juga part of shrine atau kuil tapi yang jadi objek utamanya bukan kuil tetapi tiang-tiang khas berwarna oranye yang memanjang ke arah gunung Inari. Untuk dapat sampai kesini ada beberapa alternatif pakai bus atau kereta:

  1. Kereta : Kyoto Station > Naik JR Nara Line > Turun di Inari Station (Sekitar 9 min, fare ¥140)
  2. Bus : Kyoto Ekimae Bus Stop > Naik bus no 105 atau no 5 > Turun di Inaritaishamae Bus Stop (Sekitar 24 min, fare ¥230)

Turun dari stasiun kereta masih perlu berjalan lagi sekitar 180m, dan apabila naik bus lebih jauh lagi yaitu 450m untuk sampai ke tempat masuk Fushimi Inari Taisha. Sepanjang jalan menuju sana banyak toko-toko makanan dan aneka food stall di pinggir jalan yang menjual berbagai macam makanan dari grilled beef sampai aneka daging babi (lagi).

Sama seperti ke Arashiyama tadi, kalau datangnya sudah diatas jam 9 pagi, dipastikan sudah sangat ramai dan terlebih saat musim liburan Jepang seperti saat kesana. Sedikit kecewa tidak bisa ambil gambar yang diinginkan, tetapi tidak mengapa masih bisa dapat gambar yang lumayan.

Fushimi Inari Taisha

Gion District

Lanjut dari Fushimi Inari, lanjut lagi ke destinasi terakhir trip di Kyoto hari ini ke Gion District. Sebetulnya ada dua pilihan antara Gion atau Kiyomizu-dera karena keduanya jaraknya relatif sama tapi karena hari sudah mulai sore, akhirnya dipilihlah ke Gion dengan menggunakan Kyoto city bus. Sempat terjadi salah paham dikirain salah naik jurusan, jadi kita lanjut berjalan kaki cukup jauh menyusuri area Shijo-dori ditambah hujan sudah mulai turun disini. Dingin memang, tetapi tetap mengasyikkan.

Sesampainya di Gion, kita bisa ikut nonton teater di Gion Corner dengan membayar tiket ¥1500 untuk satu pertunjukan atau mencoba makan di salah satu restoran yang ada. Saya pikir restoran-restorannya pada tutup karena belum buka, ternyata sudah buka sejak siang dan kita cukup mengetuknya atau langsung masuk saja karena tidak ada reklame atau ‘plang’ yang menunjukkan itu adalah sebuah restoran. Mungkin memang sengaja dibuat begitu agar terjaga kesan tradisionalnya Gion yang Jepang banget. Katanya kalau tidak hujan banyak Geisha yang berjalan-jalan disini, lho.

Gion District

Alhasil kami cuma bisa berfoto-foto saja di sekitaran Gion District karena tidak yakin juga ada makanan halal disana (dan sepertinya mahal pula) dan memutuskan langsung kembali ke Kyoto Station untuk pulang.


Tips

Kyoto ini ternyata bukan kota yang kecil, bekas ibukota Jepang di masa lampau ini lumayan besar dan banyak sekali objek yang bisa kita datangi. Kalau kalian yang mau explore Kyoto secara full, saya saranin spent waktu minimal 2 hari di Kyoto untuk bisa mengelilingi tempat-tempat favorit tujuan wisata di sini. Contohnya yang mau dapet foto kece di Arashiyama dan Fushimi Inari mesti dateng ke lokasi sepagi mungkin yang agak sulit dicapai kalau kita berangkat dari luar Kyoto.

Masih banyak objek menarik lainnya di Kyoto, dan kalau ingin efektif dan efisien waktu dan biaya, rencanakan terlebih dahulu trip listnya dan pelajari peta transportasi di Kyoto ini.


Hari ke 3: Ngebolang Sendirian

Di hari ketiga ini, saya ngebolang di Osaka sendirian karena Mas Rizky sudah harus masuk kerja. Sebelum berangkat ke Osaka, saya sempatkan dulu untuk sesepedahan sendiri mengelilingi kota Izumiotsu. Seneng banget sih bisa sepedaan di Jepang melewati gang-gang kecil seperti yang biasa saya liat di komik Doraemon dan di Jepang sendiri bersepeda adalah sesuatu yang biasa sampai-sampai di dekat stasiun sendiri ada parkiran berbayar khusus sepeda yang selalu penuh.


Hunting Oleh-Oleh di Namba

Karena budaya orang Indonesia kalau ada yang habis liburan selalu menanti oleh-oleh, saatnya untuk berburu barang yang pas dan harganya affordable. Ada beberapa tempat yang bisa kita datangi untuk mencari oleh-oleh khususnya di Namba seperti Daiso di Shinsaibashi dan BIC Camera. Harga suvenir-suvenir disini bervariasi dari yang murah sampai yang ribuan yen

Mau cari oleh-oleh mainan? Gampang kunjungi aaja Nipponbashi seperti tulisan di atas.

Tapi entah kenapa saya merasa menemukan beberapa drug store yang menjual obat gosok atau semacamnya sebagai anti pegal dan untuk otot gitu. Mungkin orang sana suka bermasalah dengan otot?


Umeda Sky Building

Salah satu gedung tinggi di Osaka yaitu Umeda Sky Building menjadi salah satu destinasi wisata turis yang datang ke Osaka karena memiliki observation area di lantai 39 yang dapat dimasuki oleh turis dengan membayar ¥1500. Saya tadinya mau masuk dan sudah ikut mengantri, tetapi karena antriannya terlalu panjang dan lama saya putuskan untuk keluar dan memotret saja dari luar gedung.


Sight seeing Around Osaka Station City and Ogimachi Park

Kalau sudah capek dan pegel, duduk liat pemandangan sore itu menyenangkan. Tidak sengaja karena nyasar sedikit sebelum sampai Osaka station saya nyantai dulu di Ogimachi park menikmati suasana sore di sebuah lapangan luas tempat orang-orang bersantai sore dengan kerabatnya. Ada yang bermain bola, main lempar-lemparan bahkan sekedar ngobrol dengan teman-teman terasa menyenangkan. Sekali lagi seperi dalam komik doraemon.

Lain hal dengan di Osaka Station City, disini suasanya lebih ramai dan orang-orangnya banyak yang duduk-duduk di tangga ke arah plasa sambil menikmati sore. Saya ikut menikmati suasana sore disini sambil motret-motret sekitaran Osaka Station City untuk menikmati ambience Jepang sebelum pulang ke Jakarta esok harinya.


Japan, I’ll Come Back!

That’s all my first trip to Japan for short holiday. It was really fun and tired but honestly 4 days was not enough to explore around Osaka and Kyoto. Many things I couldn’t done with a tight schedule. Hopefully I can comeback here for honeymoon somedays. Thank you!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *