Setelah direncakan dari entah berapa lama, Alhamdulillah akhirnya gue kesampaian juga untuk membuat visa Jepang. Tanggal keberangkatan sebetulnya sudah dijadwalkan dan tiket pun sudah issued, tapi ternyata jadwal audit di kantor gue berbenturan dengan waktu cuti ke Jepang nanti dan baru rilis beberapa hari lalu, dan terpaksa gue pendingSetidaknya gue udah punya visanya dulu walau entah kapan bisa berangkatnya.

Singkat cerita membuat visa Jepang itu bisa melalui kedutaan besar Jepang maupun di VFS Global atau lebih sering terdengar Japan Visa Application Center (JVAC), tapi berhubung bisa izinnya pagi jadi gue putuskan untuk membuat di JVAC yang berada di Mal Lotte Shopping Avenue lantai 4 yang sudah buka dari pukul 09.00 hingga 17.00.

Ditulisan ini gue mau ngebandingin membuat visa dengan pemegang e-paspor dengan paspor biasa.

Dokumen yang dibutuhkan

Membuat visa Jepang pun tergantung dari jenis paspor yang kita miliki, paspor biasa maupun e-paspor dan treatmentnya pun berbeda. Berikut dokumen-dokumen yang diperlukan saat mengajukan visa Jepang:

E-Paspor

  • Application form visa waiver*
  • E-paspor

Paspor Biasa

  • Application form visa reguler*
  • Paspor
  • Foto 45×45
  • Itinerary trip
  • Rekening koran
  • Surket bekerja (if any)
  • Tiket pp (if any)

*form dapat di download di websitenya VFS

Lumayan juga kan privilege bagi pengguna e-paspor tidak perlu menyiapkan dokumen yang cukup banyak seperti pengguna paspor biasa.

Selain itu bagi pengguna e-paspor pun tidak perlu mengantri diluar untuk tahap document checking dan bisa langsung masuk untuk ambil nomor antrian.

Di JVAC ini ada sekitar 15 counter yang melayani (kalau di kedutaan katanya cuma 5 counter) dan ruangannya pun nyaman. Ada rusng foto segala untuk yang tidak membawa foto ukuran 45×45. Waktu tunggu pun tidak terlalu lama dan bagi yang mau lebih cepat lagi bisa membuat janji temu/ appointment dulu sehingga akan mendapatkan nomor antrian prioritas.

Biaya

Soal biaya tentu menjadi keunggulan lagi bagi pemegang e-paspor karena cukup membayar biaya administrasi sebesar Rp. 120.000 dan visa yang diperoleh nanti akan berlaku selama 3 tahun semenjak dikeluarkannya Visa (atau habis masa berlaku paspor, mana duluan yang habis) dan bebas keluar masuk ke Jepang berapa kali tanpa batasan asalkan durasi tinggal dibawah 15 hari per kunjungan (kecuali jika memang ada urusan lain seperti business trip atau belajar disana harus mengajukan waiver lain).

Sedangkan untuk paspor biasa, biayanya yaitu:

  • Single entry: Rp. 360.000
  • Multiple entry: Rp. 720.000

Cukup mahal juga ya jatuhnya untuk paspor biasa, dan ini mungkin jadi salah satu alasan mengapa kita lebih baik membuat e-paspor ketimbang paspor biasa yang selisih harganya 300ribuan. Tapi saya maklum juga karena fasilitas e-paspor belum tersedia di seluruh kantor imigrasi (kanim) hanya ada di beberapa kota besar. Tapi itu bukan halangan, karena paspor daerah bisa juga dibuat di Jakarta.

Waktu tunggu

Dan apabila kita membuat di JVAC ini kita bisa mengetahui sudah sampai tahap apa proses pembuatan visa kita dan dapat di track baik melalui call center maupun via website. Kebetulan visa gue sudah selesai dalam waktu 3 hari kerja (padahal normalnya 5 hari kerja) dan akan ada pemberitahuan melalui email yang didaftarkan dan saat diambil. Untuk yang waktunya terbatas, visa yang sudah selesai dapat dikirim ke rumah atau kantornya dengan tambahan biaya sebesar Rp. 50.000.

Buat temen-temen yang ingin info selengkapnya bisa diihat di website resminya embassy Jepang disini.


At the end, begitulah pengalaman gue membuat visa Jepang di JVAC dan semoga bermanfaat.

Have a nice day!

 

 

source:

thumb

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *