Hari Selasa 19/2/2019 kemarin, kebetulan gue mendapatkan undangan dari Pemprov DKI dan @mrtjkt dimana berkumpul temen-temen instagramer & influencer ibu kota lainnya dalam acara spesial untuk mencoba kereta MRT “Ratangga” dari stasiun Bundaran HI sampai ke Lebak Bulus. Yang diundang dalam acara ini, dijelaskan pada saat sambutan oleh perwakilan Pemprov DKI yaitu orang-orang yang sering memposting mengenai potret ibu kota secara sukarela dan turut serta mengkomunikasikan wajah ibu kota kepada khalayak ramai. Jadi bukan berarti yang  diundang itu hanya instagrammer/ influencer yang memiliki follower ribuan. Feel so lucky to be one of them!

Acara ini diselenggarakan di kantor pusat MRT Jakarta yaitu di Wisma Nusantara Lantai 22, dan tidak heran begitu gue masuk ke ruangan orang-orang sedang asyik hunting Bundaran HI dari sini. Gue pun ngga tinggal diam untuk mengabadikan momen langka ini. Di ruangan ini ada puluhan undangan yang hadir, gue coba berkenalan dengan beberapa orang disini yang ternyata hadir pula instagrammer ibukota”panutanque” seperti @darisarch dan @ijoeel. Mereka yang hadir disini rata-rata mahasiswa dan pekerja seperti gue, tapi ada juga bapak-bapak sampai emak-emak yang hadir dengan membawa kameranya bahkan sampai pakai gymbalnya.

Sebelum kami turun ke bawah, ada sambutan dan sedikit intro dari pihak MRT Jakarta dan perwakilan Pemprov DKI mengenai latar belakang acara ini dan juga sharing informasi mengenai pembangunan MRT Jakarta ini. FYI, MRT Jakarta ini proyek gabungan antara Pemprov DKI dan Pemerintah pusat (persentasi kepemilikan: 51% Pemprov ; 49% pusat) bekerjasama dengan JICA (Jepang). Dan yang menggembirakan, progress pembangunan keseluruhan proyek ini sudah mencapai lebih dari 99%, dan akhir bulan Maret ini, Insya Allah MRT Jakarta sudah bisa dibuka untuk umum!

Mengintip Stasiun MRT Jakarta

Jumlah stasiun MRT ada 13 stasiun, terdiri dari 7 stasiun layang, 6 stasiun bawah tanah dan 1 depo. Total jarak dari stasiun Bundaran HI sampai Lebak Bulus sekitar 16 km dan dapat ditempuh dalam waktu 30 menitan. Kami memulainya dari stasiun Bundaran HI dan masuk dari shelter Thamrin. Stasiun ini sudah hampir selesai pengerjaannya, tinggal tahap finishing saja. Semua alat mulai dari mesin tiket otomatis sampai auto gate sudah rapih terpasang hanya masih ditutupi dengan sarung plastik. Interior stasiun ini pun keren banget, tidak kalah dengan stasiun MRT yang ada di Singapura.

Stasiun Bundaran HI
Platform Stasiun Bundaran HI

Sepanjang perjalanan dari Bundaran HI ke Lebak Bulus, kami tidak diperkenankan untuk keluar saat kereta singgah di stasiun karena memang sedang dalam tahap percobaan. Transisi dari underground ke atas yaitu antara stasiun Bundaran Senayan sampai stasiun Sisingamangaraja. Entah kenapa gue lebih suka dengan stasiun layang, karena tidak sebesar stasiun underground jadi tidak terlalu jauh untuk keluar masuk stasiunnya dan juga bisa langsung melihat pemandangan di luar.

Baru begitu sampai di Stasiun Lebak Bulus, kami dipersilahkan turun untuk pindah platform karena akan berganti kereta ke arah Bundaran HI. Di Stasiun Lebak Bulus ini kita bisa melihat Depo MRT dan gedung pusat kendali (Operation Control Center) yang super keren, seperti bukan di Jakarta saja apalagi di Lebak Bulus, hehe.

DEPO MRT Jakartaa

Ratangga

Rangkaian kereta Moda Raya Terpadu @mrtjkt ini diberi nama Ratangga oleh Pak Anies Baswedan Gubernur DKI, yang mana kata tersebut diambil dari kitab Sutasoma, yang memiliki arti sebagai kuda perang yang digunakan oleh para pejuang. Jadi menandakan orang-orang yang sedang berjuang di ibu kota dengan menaiki kuda perang ke tempat kerjanya atau tujuannya. Satu rangkaian kereta terdiri tadi 6 gerbong, dan dapat menampung sekitar 1200 ~ 1800 penumpang! Di peak hour yaitu di jam masuk dan pulang kantor, waktu tunggu kereta hanya 5 menit, sementara di luar peak hour waktu tunggu antar kereta sekitar 10 menit-an.

Kereta MRT Jakarta “Ratangga”

Kereta ini berbasis Grade of Automation level 2, dimana kereta dikendalikan otomatis dari OCC (Operation Control Center) yang berada di Lebak Bulus, namun tetap ada masinisnya di tiap rangkaian untuk mengantisipasi apabila terjadi situasi darurat. Saya sempat bertanya kepada salah satu officer MRTJ kok tidak disamakan saja dengan MRT di Singapura? Hal ini dikarenakan masyarakat kita belum terbiasa dengan transportasi umum seperti MRT ini, sehingga dikhawatirkan bisa terjadi hal-hal yang diluar ekspektasi. Misal tiba-tiba ada yang menekan tombol Emergency, maka masinis akan mengambil alih. Mungkin dengan seiring berjalannya waktu dan masyarakat sudah well educated , misal : How to Use Public Transport in a Good Way”.

Kereta ini memiliki fitur-fitur keselamatan yang mumpuni dan ramah terhadap penumpang berkebutuhan khusus seperti difabel, lansia, orang cidera, ibu hamil dan orang dengan anak kecil. Tengok saja di dalam gerbong ada pegangan tangan berwarna kuning yang khusus untuk orang difabel, dan 2 gerbong dengan space khusus bagi penumpang berkursi roda.

 

Notes:

MRT Jakarta dibuka secara terbatas/ trial run pada tanggal 12 Maret 2019 ~24 Maret 2019 bagi orang-orang yang sudah mendaftar secara online di jakartamrt.co.id.

Ayo gunakan transportasi baru ini dengan baik dan kita rawat bersama!


 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *