Citilink menambah armada baru di jajaran fleetnya, yaitu ATR72-600 dengan registrasi PK-GAR (konon PK-GAS menyusul) yang mana kedua pesawat ini yakni “lungsuran” dari induknya, Garuda Indonesia. Meski berstatus “lungsuran/ pinjaman” tetapi pesawat tersebut masih berusia muda karena delivery time-nya belum mencapai 5 tahun. Rilis resmi yang diberikan oleh Citilink melalui Instagram resminya @citilink mengenai pengoperasian pesawat ATR72-600 ini yaitu pada 31 Januari 2019.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Citilink Indonesia (@citilink) on


Walau dirilis resminya baru kemarin, namun aroma-aroma pengalihan pesawat ini dari Garuda ke Citilink sudah tercium dari sekitar pertengahan Januari lalu melalui foto di instagram yang diambil oleh kawan-kawan GMF saat pesawat ini sudah selesai di cat di hangar GMF (saya yakin foto ini sudah mendapat otorisasi dari Citilink sehingga dapat diunggah ke media sosial) seperti berikut:

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Indra Gunawan (@indragunawan_23) on


Pesawat ini nantinya akan melayani rute-rute yang tidak diterbangi atau bukan tujuan utama pengoperasian oleh pesawat jet seperti Boeing 737 maupun Airbus A320, diantaranya Medan – Lhokseumawe, Sibolga, Gunung Sitoli dan Padang Sidempuan. Sehingga keputusan mengoperasikan rute-rute tersebut dengan pesawat propeller saya rasa itu langkah tepat yang dilakukan oleh Citilink karena akan lebih menghemat biaya dan juga landing/ take off di bandara dengan runway yang tidak terlalu panjang.

Dari berita yang saya baca dari lama, rencana Garuda untuk mengalihkan operasional pesawat-pesawat ATR72-600 yang dimiliki masakapai plat merah tersebut dengan menggunakan brand “Explore” bertujuan untuk mempertegas positioning maskapai Garuda Indonesia sebagai full service airline yang mana menghilangkan area abu-abu dari Garuda sendiri. Karena secara standar inflight service, di pesawat ATR72-600 ini tidak memiliki AVOD/ IFE (Audio Video On Demand/ In-Flight Entertainment). Beberapa waktu kebelakang ada kebijakan yang diambil oleh Garuda seperti ingin ikut meramaikan persaingan di kelas menengah ke bawah dengan salah satu programnya yaitu Eco Basic atau dengan kata lain ingin mengambil market di luar pangsa pasar utamanya.

Bicara di luar masalah marketing atau strategi maskapai Garuda, jujur aja saya penasaran ingin terbang menggunakan pesawat propeller yang konon kalau terbang lebih bumpy dan flight altitudenya lebih rendah daripada terbang dengan pesawat jet lainnya, lebih menarik bukan?

Semoga Citilink kedepannya sukses dengan pengoperasian armada pesawat barunya ini ya!

-MIF @CGK

image source: @citilink

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *