Keberangkatan ke Banyuwangi

Tiba juga waktu yang ditunggu-tunggu yakni hari keberangkata saya dan temen sekantor saya untuk ngetrip ke Banyuwangi. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 13.30 menggunakan flight GA 264 rute direct CGK-BWX dengan pesawat Bombardier CRJ1000. Berharap dapat makan berat/ hot meal karena belum sempat makan siang, tapi ternyata hanya dapat snack box, ya mungkin karena flight timenya tidak sampai 90 menit.

Cuaca saat memasuki Banyuwangi hujan sedang. Agak serem sih kalau cuaca tidak cerah saat terbang dengan pesawat “pensil” ini, tapi so far perjalanan kami Alhamdulillah mulus.

Bandara Blimbingsari

Bandara ini baru diresmikan kembali sekitar bulan September 2017 setelah sempat mengalami renovasi baik di bangunan terminal dan juga penambahan panjang runway. Konon bandara ini akan dijadikan backup nya Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali saat diadakannya pertemuan IMF pada tahun ini.

Saya suka dengan konsep green airport yang disematkan dalam bangunan ini, dimana penumpang maupun pengunjung merasa adem saat ada di dalam maupun disekitar bangunan terminal. Banyak ruang-ruang terbuka untuk sirkulasi udara dan cahaya matahari agar dapat meminimalisir penggunaan AC dan lampu.

Tempat Menginap

Dari bandara kami naik taksi menuju tempat menginap kami yang dipesan melalui Airbnb, yang berlokasi di wilayah Pakis. Karena kita budget traveller jadi kami memilih penginapan yang murah namun lokasinya dekat dengan kota, yaitu hanya Rp. 150.000/malam.

Fasilitasnya lumayan kok, ada handuk, shampo & sabun, air mineral, pemanas air, teh & kopi, serta channel tv internasional. Yah walaupun tidak ada AC-nya cukuplah pakai kipas angin.

Opentrip ke Kawah Ijen

Berhubung ngga mau ambil repot, kita putusin untuk ikut open trip. Rute perjalanannya yaitu penginepan – Gunung Ijen – Makan Siang- Taman Nasional Baluran – Tempat Oleh-oleh. Harga per orangnya lumayan sih Rp.350.000 tapi belum termasuk makan yah, tapi enaknya kita tinggal tidur dan duduk, dianterin sampai ke tujuan.

Kami dijemput yang pertama sama Mas Syaiful & supir pakai mobil Elf pukul 23.30 didekat penginapan, lalu menjemput peserta open trip lainnya sebelum berangkat ke Gunung Ijen. Saya ngga ngeh banget berapa lama waktu tempuh dari Banyuwangi kota hingga Paltuding yaitu pintu masuk pendakian Gunung Ijen.

Sekitar pukul 02.00 kami sampai di Paltuding dan persiapan mendaki. Buat yang mau mendaki Gunung Ijen, jangan lupa siapin peralatan berikut:

  • Jaket tebal
  • Syal
  • Kupluk + sarung tangan
  • Senter
  • Air minum
  • Coklat (penambah tenaga)
  • Masker
  • Sepatu gunung (engga direkomendasiin pake sandal atau sepatu converse dan semacamnya).
  • Celana jeans/yang fit di badan.

Saya dan rombongan open trip mulai mendaki dari Paltuding sekitar pukul 02.30, dimana kondisi disana crowded banget. Soalnya Bali lagi Nyepi dan Bromo pun sedang ditutup, alhasil orang-orang jadi milih ke Ijen dan ini pendakian seperti ke mall, rame banget.

Jarak dari Paltuding hingga sampai ke puncak Gunung Ijen hingga terlihat kawahnya yang terkenal itu sekitar 3 km dan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam. Ada beberapa pos selama pendakian, dan biasanya di setiap pos ini ada toiletnya, jadi yang ingin buang air lebih baik di pos-pos aja ketimbang buang air dibawah pohon ya. Dan karena sampai puncaknya pas dengan waktu subuh, jadi kami solat subuh dipuncak sana dan tayamum karena tidak ada sumber air di atas sana.

Diatas atau di puncak Ijen ini kita bisa menikmati suasana alam yang begitu indah ditambah udara sejuk nan bersih, hingga menghilangkan rasa lelah dan kantuk setelah lama mendaki. Kawah Ijen ini lebih keren daripada foto-foto yang saya liat sebelumnya, Masya Allah luar biasa indah ciptaan-Nya.

Kalau beruntung, kita bisa lihat blue fire yang di Indonesia satu-satunya hanya ada di Kawah Ijen. Tapi hanya sampai sekitar pukul 04.30-an blue fire ini jadi kalau mau lihat blue fire memang harus datang lebih awal dan saat kondisi tidak terlalu ramai. Diatas sana juga kita bisa nemuin warga sekitar yang berjualan belerang ukir, macem-macem bentuknya tapi inget belerang tida boleh dibawa ke atas pesawat karena sifatnya mudah terbakar.

Buat yang tidak kuat mendaki, tenang saja karena selama pendakian ada “taksi” yang bisa disewa buat naik sampai atas sana. Begitupun untuk yang sudah capek untuk turun, bisa juga menyewanya untuk turun dari atas. Bentuknya seperti gerobak yang dimodif jadi tempat duduk penumpang, Ya kalau mau naik taksi Ijen harus siap-siap merogoh kantong cukup dalam.

Penampakan “Taksi Ijen”

Taman Nasional Baluran

Lanjut dari Ijen, kami cus ke Taman Nasional Baluran (TNB) yang jaraknya cukup jauh. Saya kira TNB itu kayak Taman Safari yang ada di Cisarua tapi ternyata jauh dari perkiraan. Jadi di TNB itu ada dua tempat yang menjadi tujuan wisatawan yaitu Savana Bekol dan Pantai Bama.

Savana Bekol

Dari pintu masuk setelah membeli tiket, kami menempuh waktu hampir 1 jam untuk mencapai Savana Bekol karena jalannya yang tidak mulus dan banyak yang berlubang dan berlumpur. Savana Bekol ini punya beberapa sebutan, yaitu Little Africa in Java dan Savana van Java. Berhubung lagi musim hujan, jadi tidak seperti savana yang biasa kita lihat di layar TV karena hampir didominasi warna hijau. Namun itu tak mengapa, yang penting rasa penasaran saya sudah terobati dengan melihat langsung Savana Bekol ini.

Sebenernya ada larangan untuk tidak memasuki wilayah padang rumput, tapi namanya juga wong indonesia demi dapat selfie terabas ajaa. Banyak lubang-lubang di padang rumput sana yang konon katanya itu adalah tempat keluarnya ular-ular, jadi tau kan kenapa pengunjung dilarang masuk ke padang savana.

Pantai Bama & Hutan Mangroove

Pantai Bama ini jaraknya masih sekitar 2-3 km dari Savana Bekol. Menurutku sih pantainya bersih dan bagus, serta ombaknya begitu tenang. Mungkin karena posisinya yang dekat dengan Bali jadi arusnya pun tenang.

Ada tempat wajib kalau yang berkunjung ke Pantai Bama ini, yaitu ke Mangrove trail. Tidak ada yang spesial sih disini menurutku, mirip-mirip sama mangrove yang ada di Jakarta utara. Ya cukup lah berfoto sebagai bukti pernah ke mangrovenya Banyuwangi, hehe.

Kepulangan ke Jakarta

Akhirnya tiba saatnya akhir dari liburan singkat 3 hari 2 malam di Banyuwangi ini. Kepulangan kami menggunakan flight GA 265 dengan tipe pesawat yang sama dengan berangkat. Walaupun badan sudah lelah dan tas pun makin berat dengan tambahan oleh-oleh tapi kami tetap ceria.

Finally, itulah sedikit cerita perjalanan singkat kami dari Banyuwangi. Semoga masih bisa mengunjungi destinasi keren lainnya di Indonesia!

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *