After a long and exhausting day in the first day, malamnya saya bisa tidur dengan pulas dan mengistirahatkan semua persendian kaki yang telah cukup lelah selama seharian. Hari kedua dimulai dengan mengunjungi suatu tempat yang berada di dataran tinggi di Bali sampai akhirnya pulang lebih awal.

Kesasar Pura Ulun Danu Batur

Setelah mengambil mobil sewaan (baru kali ini saya sewa mobil tanpa tahan kartu identitas dan bayarnya belakangan, kebetulan yang punya juga asal Bandung) yaitu Xenia 2017 seharga Rp.250.000/day dan mengisi perut di KFC (lagi), kami langsung menuju Pura Ulun Danu. Jarak dari Denpasar cukup jauh sekitar 54 km dan berada di kawasan Bali Utara kalau dilihat dari peta. Sepanjang perjalanan ditemani rintik hujan, lagu-lagu Payung Teduh dan melewati Ubud yang asri menambah suasana perjalanan makin memorable, ini salah satu pengalaman yang berkesan. Singkat cerita kami sampai di Ulun Danu sesuai Google Maps, tapi kami kira hanya ada satu pura Ulun Danu di Bali, namun ternyata setelah mengarungi perjalanan lebih dari 50 km selama lebih dari 2 jam, ternyata tempat yang kami tuju bukan lah Ulun Danu yang ada di gambar (Pura di pinggir danau). Setelah nanya warga sekitar ternyata banyak orang yang tersesat ke pura yang satu ini.

Persawahan

Ternyata kami sampai di Pura Ulun Danu Batur yang ada di jalan raya Kintamani persis disekitar Gunung Batur. Sedari awal saya sedikit bertanya-tanya agak heran pin di Gmaps sudah mau sampai tapi tidak ada tanda-tanda danau (ada sih danau di balik gunung Batur) dan pintu masuknya pun kecil. Tapi suasana di Ulun Danu Batur ini sebetulnya enak kok, hawa dingin dan pemandangan langsung ke Gunung Batur juga bisa merelaksasi badan. Dan kami memutuskan untuk kembali ke Ulundanu “beneran” yang cost us around 2 more hours.

Ulundanu Beratan

Nama pura benerannya yaitu “Ulundanu Beratan Temple” ngga dipisah Ulun & Danu-nya hehe. Akhirnya kami sampai ke Ulundanu yang betulan, yang berada di daerah Bedugul, Kabupaten Tabanan Bali. Hawa disini juga masih sama-sama dingin karena di dataran tinggi juga, dan masih diiringi oleh rintik-rintik gerimis. Tiket masuk turis lokal Rp.20 ribu saja, sedangkan wisman Rp. 50.000!

Arus wisatawan yang datang ke tempat ini seakan tidak ada habisnya, kendaraan yang membawa wisatawan mulai dari big bus hingga mobil rental silih berganti keluar masuk area parkiran. Jadi pura Ulundanu disini itu terkenal sebagai Pura di atas air dan sudah jadi salah satu icon wisata di Bali. Di danau ini juga kita bisa menyewa kapal kecil untuk mengelilingi pulau atau bahkan bermain speedboat dan banana boat.

Pura Ulundanu Beratan

Jadi sebetulnya saya sudah pernah kesini sekitar tahun 2004 silam bersama keluarga besar saat masih duduk di bangku kelas 5 SD, sedikit lupa ingat, tidak ada perubahan yang signifikan di tempat ini yang mungkin pengelolanya sengaja mempertahankan tempat ini agar image-nya tetap terjaga. Yang enak untuk dilakukan disini yaitu lakeside walking atau sekedar sightseeing menikmati suasana dingin tempat ini dan juga kita bisa merasakan sebuah ketenangan ditengan wisatawan lain yang sedang berkunjung.

It’s nice to be here.

Setelah puas mencuci mata melihat keindahan disana, tidak ada salahnya melihat-lihat taman bunga yang tidak jauh dari pura Ulundanu. Ditata dengan apik membuat banyak orang juga ikut berfoto-foto di sekitar sini setelah puas berfoto dengan latar belakang pura ataupun danau.

Move to next destination

Lanjut ke Krisna

Setelah puas menikmati suasana di Ulundanu, kami tadinya langsung menuju selatan tepatnya ke Uluwatu Temple karena terbatas oleh waktu juga. Namun ditengah-tengah perjalanan entah mengapa saya tiba-tiba tidak enak badan dan sepertinya masuk ingin karena telat makan. Sebuah hal yang disayangkan sih di tengah liburan begini tau-tau badan jadi kurang sehat.

Heading down to DPS

Sebelum mencapai Uluwatu, kami sempatkan dulu makan di Krisna Wisata Kuliner yang berada tidak jauh dari bandara Ngurah Rai. Disini akhirnya saya memutuskan untuk me-reschedule tiket pulang yang awalnya hari Senin pagi menjadi hari Minggu jam 20.40 (thanks to ID ticket), selain takut makin ngga enak badan juga di rumah juga sedang tidak ada yang nemenin Eyang. Setelah makan, karena lokasinya yang juga bersebrangan dengan pusat oleh-oleh Krisna, kami sempatkan dulu berbelanja oleh-oleh. Jujur aja saya udah ngga ambil pusing mau beli oleh-oleh apa, langsung beli Pie Susu khas Bali dan langsung keluar cari tempat duduk.

Pulang Duluan

Sebetulnya sangat disayangkan sih, masih punya beberapa jam lagi buat bersama-sama tapi akhirnya saya harus pulang ke Jakarta duluan. Namun hal itu bukan masalah, karena apa yang saya inginkan di Bali sebagian besar sudah tercapai dan menjadi salah satu perjalanan yang mungkin memorable bagi kami sebelum kami satu persatu menikah dan enggak tau kapan lagi bisa jalan-jalan bareng begini.

Selamat datang Jakarta, selamat tinggal Bali..

 

Well, this Bali short getaway I said success! Thanks all and see you on next trip.

/

*maybe I will add Bali as my honeymoon destination after I get married*

*don’t forget to take “kayu putih, hansaplast, and tolak angin” everywhere you traveling*

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *