Bali, sebuah destinasi wisata tersohor didunia, dan saya beruntung bisa kembali liburan singkat disini bersama teman-teman kuliah dulu. Kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai liburan singkat saya di Bali selama 2 hari 2 malam, yang juga ada di checklist destinasi kota yang ingin saya kunjungi. Walau liburan singkat namun sungguh berkesan liburan singkat kali ini, yang akan saya tuangkan dalam tulisan berikut.

Beginning of Drama

Berawal dari obrolan singkat di Line di suatu hari libur, dan kebetulan saat Annisaa ngasih info mengenai adanya promo kalau membeli tiket pesawat di mobile apps milik Airy karena baru launching fitur pemesanan tiket pesawat, dan tanpa banyak pikir kami langsung memutuskan untuk memilih berlibur Bali! Drama sudah dimulai dari beberapa saat kami telah membeli tiket vv, dimana ternyata tanggal kepulangan kami semua salah. Ya, niat ingin pulang Senin dini hari (Mon 12.15) tetapi kami malah memesan tiket Sun 12.15, artinya hari Minggu pagi kami sudah harus pulang! Suatu kesalahan yang menggelikan, sehingga kami refund tiket pulang dan memesan tiket baru untuk pulangnya, ya masa di Bali hanya satu hari rasanya sayang sekali.

Dua minggu sebelum hari H, kami berkumpul full team di kawasan Central Park Jakarta untuk membahas dan menyusun itinerary perjalanan kami di Bali mulai dari tempat yang ingin di kunjungi nanti, tempat menginap hingga opsi kendaraan yang dipakai nanti. Disini mulai ada tanda-tanda Rama ngga ikut trip ke Bali.

Satu Ransel

Trip kali ini saya sengaja untuk hanya membawa satu tas ransel saja (biasanya +1 sling bag) dengan tujuan agar tidak merepotkan saat perjalanan jauh dan lebih praktik. Alhasil dengan ilmu packing seadanya dan referensi dari youtube, semua perlengkapan bisa muat disatu tas ransel.

Barang-barang bawaan saya tidak banyak kok, seperti :

Pakaian

  1. Kaos 3 pcs
  2. Kemeja 1 pc
  3. Celana pendek 2 pcs
  4. Handuk
  5. Kaos Kaki
  6. Topi
  7. Sandal

Gear

  1. Xiaomi Yi + Housing
  2. Camera Fujifilm XM-1
  3. Monopod
  4. Power bank
  5. Charging cable

Other

  1. Alat mandi
  2. Plastik
  3. Obat-obatan pribadi
  4. Hansaplast
  5. Rain cover
  6. Botol minum
  7. Cemilan

Keliatannya banyak sih, tapi itu semua muat dan masih ada space untuk menaruh barang lainnya, asal packingnya rapih dan bisa memanfaatkan setiap celah yang ada.

Hari H & Menginap di Bandara Ngurah Rai

Waktu yang ditunggu-tunggu datang juga! Ya kami sudah tidak sabar menanti hari ini. Berkumpul di terminal 2, dan berita sedihnya Rama memang betulan ngga jadi ikut trip ini karena ada urusan pribadi. Setelah disepakati karena kami menggunakan last flight dari Jakarta dengan AirAsia F534 berangkat pukul 10.50 Wib dan tiba di Bali sekitar pukul 01.30 Wita. Suasana Terminal 2 sudah sepi sekali karena saat ini beberapa penerbangan internasional sudah mulai pindah ke Terminal 3.

Traveling mate: Agung – Ilham – Unay – Annisaa

Karena sampainya sudah tengah malam, akhirnya ini pertama kali saya menginap di bandara, karena setelah googling, ternyata tidak sedikit wisatawan domestik yang memilih menginap di bandara seperti di musholla, kursi-kursi toko yang sudah tutup, dengan alasan mulai dari yang katanya ngirit biaya menginap hingga agar tidak tertinggal flight pagi.

Kami tidur di sebuah musholla yang tidak jauh dari pintu keluar kedatangan domestik Bandara Ngurah Rai Denpasar dan ternyata sudah ada 2 orang yang tidur mendahului kami. Namanya juga tidur beralaskan karpet musholla alhasil bangun tidur pun tidak seperti sehabis bangun tidur biasa, namun toh hanya 3 jam kami tidur.

Day 1 : Nusa Penida Trip

1.       Sanur-Nusa Penida

Setelah mandi dan re-packing ransel, kami bersiap untuk menjelajahi destinasi pertama yaitu Pantai Sanur untuk menyebrang ke pulau Nusa Penida. Ternyata saat kami sampai di Sanur sekitar pukul 7 pagi, suasana sudah ramai oleh turis asing maupun domestic yang akan menyebrang ke Nusa Penida juga.

Di sini banyak sekali agen perjalanan yang umumnya mempunyai kapal sendiri untuk menyebrang ke Nusa Penida dengan beragam pilihan harga. Kami memilih menggunakan Crown Fast Cruises yang tiketnya telah kami pesan sebelumnya, sebab kalau tidak kita bisa tidak terangkut di keberangkatan pertama dan masih harus menunggu > 2 jam. Harga satu tiket pergi dengan Crown Fast Cruises yaitu Rp. 75.000,00 jadi kalau pp dikalikan 2 saja.

Tiket Fast Boat

Tips : Bagi yang ingin menyebrang ke Pulau Penida, ada baiknya kita cari tahu informasi mengenai akomodasi ke & dari Nusa Penida serta tentukan sekalian itinerary-nya juga sehingga bisa secepat mungkin menentukan waktu keberangkatan dan kepulangan dikarenakan cukup padat pengunjung terutama di akhir pekan atau hari libur.

2.      Pelabuhan Toyapakeh & Pantai  Klingking

Pelabuhan Toyapakeh

Selama perjalanan menuju Nusa Penida, cuaca berubah dari panas hingga hujan cukup lebat dan gelombang laut pun naik turun cukup tinggi apalagi kami berempat duduk di dek atas jadi sedikit basah. Perjalanan ditempuh sekitar 90 menit dan kami sampai di pelabuhan Toyapakeh – Nusa Penida dan disambut oleh rintik-rintik hujan. Pelabuhan kecil yang juga bersebelahan dengan pemukiman warga ini, menjadi pintu masuk bagi kapal-kapal yang singgah di Nusa Penida, terutama yang mengangkut wisatawan yang datang menggunakan kapal fast boat.

Dermaga Toyapakeh

Setelah mengambil motor matic sewaan dan sarapan dengan indomie, kami diberi tahu destinasi mana saja yang recommended dan dapat dijangkau dalam range waktu 6 jam karena kami memiliki waktu yang terbatas hingga jam kepulangan. Tujuan pertama kami yaitu Kelingking Beach yang berada 14 km lebih dari Toyapakeh dan ditempuh selama hampir satu jam berkendara motor. Entah beberapa kali kami dibuat bingung oleh persimpangan yang tidak ada marka penunjuk jalan dan kami prefer tanya arah ke warga lokal ketimbang membuka Maps.

Klingking Beach – Nusa Penida

“My first impression seeing the beauty scenery is, Masya Allah!”

Jujur aja ini merupakan salah satu pemandangan terindah yang pernah saya lihat. Dibawah langit mendung, hujan rintik, kabut tipis dan deru ombak, feels like cashless moment. Saya masih bertanya-tanya kenapa ya dinamakan Kelingking, karena dari bentuknya tidak seperti kelingking juga.

Masuk ke tempat ini Rp.5000,00 dan ada juga namanya “panggung selfie” buat orang yang mau selfie dengan background yang lebih kelihatan tapi kudu bayar Rp.10.000.  Bagi yang suka foto ala-ala saya rekomendasiin banget tempat ini. Ada bagian yang saya juluki sebagai raja ampat, karena terlihat memiliki susunan pulau-pulau kecil sebagaimana yang sering saya lihat di Raja Ampat betulannya. Setelah puas berfoto ria, kalau kita haus atau mau duduk-duduk sambal ngemil, ada 3 warung yang bisa disinggahi. Satu hal yang sedikit nyebelin yaitu setiap ke toilet bayar Rp.5.000!

“Raja Ampatnya Bali” – me

Tips : Di pantai Kelingking baiknya bawa topi sama jas hujan/payung apalagi udah mau masuk musim penghujan. Dan bagi yang suka fotografi, jangan lupa bawa plastic waterproof buat nyelamatin kalau tau-tau turun hujan.

3.      Crystal Bay

Seperti namanya “crystal” di pantai ini banyak sekali karang-karang di bibir pantai. Impresi saya mengenai pantai ini tidak se-excited di pantai Klingking walau bagus juga untuk sebuah pantai. Disini saya melihat ada beberapa wisatawan yang menyewa kapal untuk snorkeling di sekitar pantai. Saat ombak turun, terlihat banyak sekali karang-karang berserakan sehingga harus hati-hati melangkah dan cukup sakit kalau kita tidak sengaja menginjaknya

Entah karena habis diguyur hujan yang membuat warna pasirnya tidak begitu putih, atau memang sudah tidak putih lagi seperti yang saya lihat di blog orang. Tapi kalau dilihat keadaan sekitar, sepertinya ada bagian lain dari Crystal Beach yang kece sebagaimana kita lihat di instagram orang.

Kami tidak berlama-lama di sini dikarenakan harus segera kembali ke Toyapakeh agar tidak tertinggal kapal untuk kembali ke Sanur. Dan jarak dari Crystal Beach ini lebih dekat daripada ke Klingking Beach.

4.      Nusa Penida – Sanur

Time for back home finally has come, petualangan kami di Nusa Penida harus diakhiri saat jam menunjukkan pukul 16.30, untuk kembali ke Sanur dengan kapal yang sama dan misalkan terlewat maka harus menunggu menyebrang esok hari. Sebelum boarding, kami menyempatkan dulu untuk solat Zuhur-Ashar, dan saya cukup takjub karena di pulau kecil ini ada sebuah madrasah dan tempat solat yang sangat nyaman.

Proses boarding nya pun sama dengan di Sanur, yaitu diabsen satu persatu penumpang yang telah terdaftar dengan tujuan agar dapat dipastikan jumlah jumlah penumpang sesuai dengan jumlah safety vest (pelampung) yang tersedia diatas kapal. (kapal ini saya lihat dikelola secara professional, dan tidak seperti kapal lain yang asal angkut penumpang).

Back to Sanur

 

Begitu kami naik ke kapal utama, langsung saja duduk dan tidak lama setelah kapal jalan kami langsung tidur karena kecapekan dan juga habis hujan-hujanan demi mendatangi tempat-tempat yang eksotis di Nusa Penida ini. Perjalanan pulangnya sendiri ngga terlalu lancar, pertama saat ditengah-tengan lautan salah satu mesin kapal sempat mengalami gangguan teknis, yang mana pada waktu itu gelombang pun sedang tinggi. Saya dan teman-teman terbangun karena suara orang panik, dan saya hanya bisa berdoa memohon keselamatan bagi perjalanan ini. Jujur ini pengalaman naik kapal terseram 2017!

Sesampainya di Sanur, Alhamdulillah bisa sampai dengan selamat dan langsung menuju tempat menginap untuk mengistirahatkan badan buat petualangan keesokan harinya.

Overall day 1 is da best!

bali 2017 171014 0025 DSCF5609 DSCF5579 DSCF5602 DSCF5530 bali 2017 171014 0003 DSCF5520

Credit : Some photo taken by @agungagriza

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *