Setiap saya ke Semarang hampir selalu menginap di sebuah hotel yang terletak di ujung jalan Pemuda karena sudah seperti langganan dari Mbah saya (selain harganya sangat terjangkau, dan fasilitasnya pun cukup baik). Baru kemarin saya baru sadar bahwa letak hotel ini cukup strategis dan di sekitarnya ada beberapa public interest seperti Pasar Johar dan Kota Lama.

Curahan Hati Seorang Pedagang di Pasar Johar

Lepas sholat Subuh (yang kesiangan), saya tiba-tiba ingin jalan kaki berkeliling sekitaran hotel sambil hunting pagi (ala-ala semarang6am). Setelah semuanya siap (kamera, tas, outfit) langsung turun ke bawah dan langsung berjalan santai menuju Pasar Johar.

Kesan pertama saya terhadap pasar ini biasa saja ya, seperti pasar tumpah yang ada di Cicadas, Bandung. Lokasinya cukup strategis dan ditempat masuknya sangat dekat dengan Masjid Agung Semarang. Langsung saja saya bergegas menuju pasar tersebut sebelum matahari semakin tinggi. Sesampainya di pasar tsb. langsung saja saya hunting foto.

Saat berjalan menuju sisi satunya lagi, tiba-tiba seorang bapak-bapak pedagang bertanya kepada saya karena dia melihat saya membawa kamera (dikirain wartawan media kali yah). Beliau meminta saya untuk memotretnya sambil bergumam “Sekarang harga kedelai makin mahal, belum lagi kita berjuang biar ngga digusur dari sini”. Sempat sedih juga waktu dibilang seperta itu, dan akhirnya dia minta difotoin dengan entah temannya atau saudaranya.

“Mas, kasih tau orang-orang di Jakarta ya keadaan kita disini..” kurang lebih seperti itu yang saya dengar dari pedagang kedelai tersebut. Yah semoga pemerintah setempat lebih memperhatikan lagi pedagang di pasar tradisional agar tidak kalah bersaing dengan tempat perbelanjaan modern.

LRM EXPORT 20170806 093728 LRM EXPORT 20170806 093737 LRM EXPORT 20170806 093717 LRM EXPORT 20170806 093747

Becak dan Kota

Semarang termasuk salah satu kota besar di Indonesia yang mana transportasi becak masih menjadi salah satu transportasi resmi dan menjadi mata pencaharian bagi sebagian orang. Becak disini saya perhatikan ada dua, becak kayuh dan becak motor. Becak-becak ini banyak dijumpai di tempat-tempat wisata, pasar dan juga sekitaran stasiun. Untuk harga sendiri saya kurang hafal karena belum pernah naik becak disini juga :D.

Saya mencoba memperhatikan mang becak, rata-rata sudah berusia paruh baya bahkan tidak sedikit yang telah berusia lanjut. Orang-orang yang lebih mudanya mungkin saat ini lebih memilih menjadi driver ojek online karena lebih simple dan pendapatannya yang lebih menjanjikan.

Dan yang menjadi pertanyaan di benak saya ialah:

“akan bertahan berapa lama lagi becak dan pasar tradisional di kota Semarang ini?”

LRM EXPORT 20170730 084426 LRM EXPORT 20170729 072657 LRM EXPORT 20170730 073511 LRM EXPORT 20170730 073308

 

Kota Lama Semarang

Tak hanya Jakarta saja ternyata yang memiliki kawasan wisata Kota Tua, dari weekend kemarin yang saya habiskan di Semarang, kita dapat menemukan wilayah kota tua namun sebutannya “Kota Lama” atau disini disebut dengan “Old Town”. Wilayah ini mempertahankan arsitektur kuno khas masa kolonialisme Belanda dahulu. Beberapa instansi maupun temat usaha yang menempati gedung kuno diantaranya Bank Mandiri, Jiwasraya, Samsat, PT Pos, Ikan Bakar Cianjur, Wingko Cap Kereta, Spielbeg Bar dan masih banyak lainnya.

Sebagian besar gedung kuno tersebut dalam keadaan terawat dan bersih sehingga menjauhkan dari kesan angker dan tidak terawat. Namun ada juga beberapa gedung (atau cuma 1?) yang entah sengaja atau tidak dibiarkan rusak dan terkesan seram. Bangunan kuno yang terletak di jalan Letjen Suprapto ini memiliki nilai sejarah masing-masing saat masih digunakan saat era kejayaan kolonialisme Belanda. Berikut beberapa gedung yang saya dapatkan informasinya :

1. Marba

Gedung ini dahulu konon milik seorang asal Yaman yang bernama Marta Badjunet yang digunakan sebagai kantor dari kegiatan ekspedisi barang lewat laut. Temboknya memiliki ketebalan sekitar 20cm, hal yang sangat jarang kita temukan di struktur bangunan modern saat ini.

 

2. Spiegel

Gedung yang saat ini milik dari “Spiegel Bar & Resto” sebuah restoran atau kafe yang menyediakan masakan khas western, merupakan salah satu gedung antik yang terawat dengan baik (atau sudah dipugar?). Gedung ini berdiri tahun 1895 (sudah berusia 120 tahun lebih!), dan dahulu gedung ini digunakan sebagai toko.

 

3. Pasar Antik Klitikan

Pasar yang berisi kios-kios dagangan barang antik, dikenal sebagai Pasar Klitikan terletak di antara Spiegel dan Gereja Blenduk. Sayangnya saat saya kesana toko-tokonya masih tutup. Namun menurut info pasar ini menyediakan berbagai macam barang antik dari yang berukuran kecil hingga besar, dan harganya pun bervarian dari kualitas barang dan nilai keantikannya.

 

4. Kantor Telkom

Kantor Telkom ini pelataran depannya diubah jadi seperti tempat duduk-duduk santai. Dulunya tempat ini yaitu kantor Telegraf kota Semarang, jadi wajar donk ya kalau sekarang jadi kantornya Telkom.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *