Jalan Ir. H. Djuanda atau yang lebih dikenal dengan nama jalan Dago yang berada di kota Bandung ini merupakan salah satu bagian kota favorit saya sejak dulu. Setiap melintasi jalan ini perasaan selalu bahagia dan terkenang dari masa SMA dulu hingga kuliah. Walau hampir setiap weekend jalanan ini macet dipadati kendaraan dari berbagai daerah, yang sering didominasi kendaraan berpelat “B”. Jalan yang dahulu sudah cantik, kini lebih cantik lagi dan mengundang banyak orang untuk berjalan kaki menyusuri jalan Dago ini.

Sabtu kemarin, entah kenapa saya tiba-tiba mengarahkan motor ke Dago dari arah Kiaracondong, mungkin karena pengen cari angin segar Bandung yang di hari itu cuaca tidak terlalu panas dan sejuk. Saya parkir di Nike Factory Store karena lihat ada diskon “Up To 70% *for selected item” dan ternyata setelah didiskon harganya masih mahal, akhirnya saya memutuskan untuk jalan-jalan sambil melihat pedestrian baru yang beberapa waktu lalu sempat hits di media sosial. Memang asyik sih leyeh-leyeh di kursi yang tersedia di beberapa poin pada pedestrian jalan Dago ini. Tau-tau saja ada seorang street photographer yang sedang hunting memotret saya *kepedean*. Tapi memang asyik duduk-duduk dibawah pohon rindang dan langit yang ditutupi awan tipis sehingga angin sejuk yang mengalir membuat kantuk menyerang.

Karena keasyikan foto-foto sambil menyusuri dan menikmati suasana jalan Dago siang itu, hingga tidak terasa adzan Dzuhur sudah memanggil. Sengaja saya memilih solat di Masjid Salman ITB sambil bernostalgia sedikit. Sedikit cerita, dulu saat kelas 3 SMA, saya dan kawan-kawan saya sering belajar di koridor Masjid Salman karena adem dan banyak jajanan murah disekitarnya. Selain belajar juga, tidak jarang mentor saya dulu,Kang Hari, mengajak anak-anak binaannya  berkeliling ITB dan mentoring di Masjid Salman (Zaid, Adira, Fajar, Babeh), such a memorable memory.

Ada juga outlet Adidas di jalan Dago ini entah baru atau sudah lama ya, tapi saat saya masuk ke outletnya lagi banyak diskon dan sedikit cerita tentang selera entah kenapa saya lebih prefer Adidas than Nike ya?

Esoknya, hari Minggu entah kenapa saya ingin ke Tahura (Taman Hutan Raya) Ir. H. Juanda atau dulu dikenal dengan nama Dago Pakar, dan kebetulan Dian lagi di Bandung juga jadi kami berangkat kesana berdua. Kalau dahulu saya masuk ke Tahura lewat pintu “rahasia” tapi sekarang sudah sulit sebab begitu masuk ke parkiran Tahura langsung “ditodong” dengan tiket masuk dan tiket parkir. Harga untuk satu motor dan dua orang dewasa yaitu Rp.30.000 + Rp. 2.000 (parkir), ya itung-itung berkontribusi untuk pemeliharaan Tahura. Tapi harusnya Pemkot/Pemda yang mengelola Tahura bisa menerapkan sistem electronic entry gate/taping gate seperti di Kebun Binatang Ragunan sehingga seluruh pemasukkan pasti masuk ke kas pemerintah, jadi tidak ada lagi yang ditilep.

Kembali ke cerita, Tahura sekarang dan dulu ternyata isinya sama saja ya, dan kebetulan kemarin sedang ada suatu acara di Tahura jadi sedikit ramai. Kalau yang belum pernah ke Tahura, mungkin bisa mengunjungi dua gua yang terkenal disini yaitu Gua Jepang dan Gua Belanda bekas peninggalan masa penjajahan dahulu. Selain gua masih ada objek wisata lain seperti air terjun namun jaraknya cukup jauh dan capek kalau ditempuh dengan berjalan kaki.

Itu sih sedikit cerita tentang weekend saya kemarin, and happy weekend again and welcome April!

5 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *