“Aroma kue nastar yang sedang dipanggang itu, menusuk rongga hidungku namun apadaya waktu masih menunjukkan pukul 2 siang..”

Hari demi hari di bulan suci Ramadhan 1437 H ini telah kita lalui bersama, dari teraweh pertama, sahur pertama, puasa pertama hingga buka puasa pertama. Namun bulan yang dinantikan oleh semua umat musling di seluruh penjuru dunia itu akan pergi, tidak lama lagi. Suasana hari lebaran yang kurang dari satu minggu lagi sudah mulai terasa dimana-mana. Mulai dari kantor yang sudah mulai sepi ditinggal cuti mudik, jalan tol yang mulai padat, hingga rumah yang dulu biasa-biasa saja kini mulai terasa sangat spesial semenjak 10 bulan lalu saya tinggal untuk merantau.
Hari ini saya mengambil cuti agar bisa pulang ke Bandung lebih awal untuk menghindari kepadatan arus mudik. Tidak lama saya sampai rumah, ibu mulai menyiapkan peralatan membuat kue nastar dan bahan-bahannya. Membuat kue nastar sudah menjadi ritual menjelang lebaran, karena customernya bukan saya dan keluarga saja, namun keluarga besar saya di Jakarta selalu menantikan kue nastar buatan ibu, yang katanya tidak ada duanya walau dibandingkan dengan kue-kue kering yang sudah punya nama besar sekalipun.

Saya teringat pada saat saya kecil dulu, waktu membuat kue adalah salah satu waktu bahagia, karena saya bisa ikut “berkreasi” dengan adonan dan membentuk nastar dengan bentuk sesuka hati dan tidak boleh orang lain memakannya. Semoga saja tradisi membuat kue nastar spesial lebaran tidak akan pernah ditinggalkan dan akan menjadi momen kebersamaan. Selamat mencicipi 😀

After baked!

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *